Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengatakan transisi ke kendaraan listrik atau EV menjadi kunci dalam penurunan emisi. Ia mengatakan, kemampuan EV menurunkan emisi lebih besar dari keberadaan pohon.
Ia mencontohkan, emisi mobil berbahan bakar fosil dalam perjalanan Jakarta–Bandung dapat mencapai jumlah yang, menurut perhitungannya, setara dengan kemampuan satu pohon menyerap emisi selama setahun.
Diaz menghitung, setiap pohon hanya mampu menyerap maksimum 25 kilogram setara CO2 per tahun. Sementara itu, emisi mobil berbahan bakar fosil mencapai 15 kilogram setara CO2 per 100 kilometer.
“Kita (seperti) harus menanam satu pohon yang menyerap emisi setiap berkendara dari Jakarta ke Bandung. Kalau tidak, artinya selamat tinggal sama keselamatan dunia,” kata Diaz dalam Urban Climate Forum 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).
Walau demikian, Diaz mengingatkan masyarakat harus memilih EV dengan baterai berbahan baku mineral dari tambang yang tidak membuka lahan. “Kalau tambang yang memasok bahan baku baterai EV membuka lahan, emisi yang dihasilkan dari menggunakan EV ama saja dengan mobil berbahan bakar fosil,” katanya.
Di sisi lain, penggunaan EV akan menekan tingkat polusi, khususnya dari partikel dengan ukuran kurang dari 2,5 mikron. Hasil riset The International Council on Clean Transportation (ICCT) bertajuk ‘Health benefits of zero-emission transport through 2050’ menunjukkan, total kematian dini akibat emisi transportasi darat di Indonesia mencapai 44.700 orang pada 2024. Angka ini setara dengan satu nyawa terenggut setiap 12 menit.
Sementara itu, emisi transportasi darat juga menyebabkan 19.800 kasus asma baru pada anak pada 2024 atau setara satu kasus baru setiap 26 menit.
“Pertumbuhan populasi, populasi yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan meningkat terhadap kesehatan akibat transportasi darat,” kata Josh Miller, Direktur Senior ICCT sekaligus penulis studi, dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (5/8).
Dampak kesehatan itu dipicu oleh paparan partikel udara yang sangat kecil (PM2,5), ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NOx). Menurut riset tersebut, transportasi darat secara global telah menyumbang 2,4µg/m³ paparan PM2,5 atau hampir setengah dari ambang batas paparan PM2,5 menurut Organisasi Kesehatan Dunia yaitu 5µg/m³.
Reporter: Andi M. Arief
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.